Analisis

Review Blast: L2 dengan Native Yield, Apa Kabar Sekarang?

Blast adalah L2 Ethereum yang sempat viral lewat native yield otomatis dan sistem poin, tapi kontroversial karena kunci deposit sebelum mainnet dan TVL anjlok pasca-airdrop.

Layer2EthereumBlastOptimistic Rollup

Blast adalah Layer 2 Ethereum berbasis Optimistic Rollup (dibangun di atas modifikasi OP Stack) yang menjadi sorotan pada akhir 2023 karena fitur native yield — saldo ETH dan stablecoin pengguna otomatis menghasilkan yield tanpa perlu langkah manual ke protokol DeFi lain.

Apa Itu Blast dan Native Yield

Blast diluncurkan oleh tim yang juga membangun Blur (marketplace NFT), dipimpin figur yang dikenal dengan nama panggilan Pacman. Fitur pembedanya:

  • ETH yang di-deposit otomatis di-stake lewat protokol liquid staking (mekanisme mirip Lido) sehingga menghasilkan yield staking Ethereum secara pasif
  • Stablecoin (USDB, stablecoin native Blast) menghasilkan yield lewat strategi yang terhubung ke protokol T-Bill/RWA ala MakerDAO (kini Sky)
  • Konsepnya: modal yang “diam” di L2 lain (hanya duduk sebagai saldo) di Blast otomatis produktif tanpa langkah tambahan

Ini pendekatan berbeda dari Arbitrum, Optimism, atau Base yang saldo ETH/stablecoin-nya tidak menghasilkan apa-apa kecuali pengguna secara aktif deposit ke protokol lending/staking terpisah.

Kontroversi Peluncuran

Blast memulai fase pra-mainnet pada November 2023 dengan cara yang tidak biasa: pengguna bisa deposit ETH/stablecoin ke kontrak Blast di Ethereum mainnet berbulan-bulan sebelum L2-nya benar-benar live, dengan iming-iming poin yang akan dikonversi jadi airdrop token BLAST nantinya.

Poin-poin kritik yang muncul saat itu:

  • Dana pengguna terkunci tanpa bisa ditarik selama masa tunggu tersebut, hanya dikendalikan multisig tim — bukan smart contract yang sudah teraudit penuh untuk skenario mainnet
  • Sistem poin referral berjenjang (mengajak orang lain untuk mendapat bonus poin) dikritik banyak pengamat industri karena strukturnya menyerupai skema piramida, meski secara teknis bukan skema investasi finansial langsung
  • TVL melonjak ke miliaran dolar dalam hitungan minggu, sebagian besar didorong FOMO poin, bukan evaluasi keamanan protokol yang matang

Mainnet publik Blast baru resmi diluncurkan Februari 2024, dan token BLAST di-airdrop Juni 2024.

Token BLAST: Tokenomics

  • Total supply: 100 miliar BLAST
  • Alokasi terbesar untuk komunitas/airdrop dan ekosistem, sisanya terbagi ke tim dan investor dengan vesting
  • Setelah airdrop, TVL dan aktivitas Blast turun tajam — pola umum yang juga terjadi di L2 lain pasca-airdrop, tapi penurunannya di Blast termasuk yang paling drastis relatif terhadap puncak TVL sebelumnya

Arsitektur Teknis

Blast dibangun di atas fork OP Stack (jadi secara arsitektur dasar mirip Optimism/Base) dengan penambahan modul native yield di level protokol. Sequencer Blast dioperasikan terpusat oleh tim, sama seperti mayoritas L2 lain di fase awal.

TVL dan Kondisi Saat Ini

TVL Blast jauh menyusut dari puncaknya di era program poin. Sebagian aktivitas dan likuiditas yang tersisa terkonsentrasi di sejumlah protokol DEX dan lending native Blast yang dibangun mengikuti mekanisme native yield-nya. Dibanding L2 lain yang dibahas di silo ini (Arbitrum, Base, Optimism, zkSync Era, Linea, Scroll, Starknet, Mantle), Blast adalah salah satu yang mengalami penurunan TVL pasca-airdrop paling tajam secara persentase.

Perbandingan: Blast vs L2 Lain

AspekBlastArbitrum/Optimism/Base
Teknologi dasarOptimistic Rollup (fork OP Stack)Optimistic Rollup
Fitur unikNative yield otomatisTidak ada yield bawaan
Model pra-launchDeposit terkunci + poin referralUmumnya langsung live tanpa kunci dana
Pola TVLMelonjak lalu anjlok tajamLebih stabil relatif

Risiko Utama

1. Model pra-launch yang problematik. Mengunci dana pengguna berbulan-bulan sebelum mainnet, dikombinasikan sistem poin referral berjenjang, adalah pola yang secara umum dianggap berisiko tinggi di industri — penting dipahami sebagai preseden, bukan sekadar sejarah lama.

2. Sentralisasi kontrol dana selama fase kunci. Selama periode pra-mainnet, dana pengguna dikendalikan multisig tim tanpa mekanisme keluar (exit) yang independen — risiko kepercayaan (trust risk) yang jauh lebih tinggi dibanding L2 yang mengandalkan smart contract teraudit sejak awal.

3. Risiko strategi yield yang terhubung ke protokol lain. Native yield Blast bergantung pada protokol liquid staking dan strategi RWA pihak ketiga — jika protokol yang mendasarinya bermasalah, yield dan bahkan pokok dana pengguna berpotensi terdampak.

4. Pola TVL mercenary dan penurunan tajam pasca-airdrop. Investor yang masuk mengejar poin, bukan fundamental jaringan, cenderung keluar cepat setelah airdrop — pola yang benar-benar terjadi di Blast dan relevan sebagai pelajaran risiko farming airdrop secara umum.

5. Sentralisasi sequencer. Seperti L2 Optimistic Rollup lain, sequencer Blast masih terpusat, dengan risiko downtime atau sensor transaksi.

Kesimpulan

Blast adalah studi kasus penting soal bagaimana fitur inovatif (native yield) bisa dibayangi oleh cara peluncuran yang kontroversial. Fitur teknisnya — yield otomatis dari staking ETH dan strategi stablecoin — memang menawarkan sesuatu yang berbeda dari L2 lain. Tapi model pra-launch dengan dana terkunci dan sistem poin berjenjang adalah preseden yang layak jadi pelajaran kehati-hatian, bukan dicontoh tanpa kritik.

Bagi yang mempertimbangkan Blast hari ini, penting membedakan antara menilai teknologi native yield-nya secara objektif versus terbawa euforia program insentif jangka pendek seperti yang terjadi di 2023-2024.

Baca juga: Apa Itu Optimistic Rollup, Review Ekosistem Arbitrum, Analisis Risiko Farming Yield Nyata, Analisis Lanskap Ethereum Layer 2.

⚠️ Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan saran keuangan atau investasi personal. Ini bukan tuduhan hukum terhadap pihak manapun — evaluasi di atas berdasarkan pengamatan publik terhadap model peluncuran dan pergerakan TVL. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan finansial.

Mau Masuk Web3 Tanpa Rekening Bank?

Elite Vault WhaleX: join membership via USDC di Base Network — akses penuh tanpa proses bank tradisional.

Lihat Elite Vault →

Pertanyaan Umum

Apa itu native yield di Blast dan kenapa dianggap kontroversial?

Native yield adalah fitur Blast yang otomatis men-stake ETH pengguna lewat protokol liquid staking (seperti Lido) dan stablecoin lewat strategi MakerDAO/Sky, sehingga saldo pengguna tumbuh otomatis tanpa perlu bridging manual ke protokol yield terpisah. Kontroversi muncul karena Blast mengunci dana pengguna berbulan-bulan sebelum mainnet resmi diluncurkan sembari menjalankan sistem poin referral berjenjang yang oleh banyak pengamat dianggap mirip skema piramida sebelum token diluncurkan.

Apakah TVL Blast masih besar seperti waktu launching?

Tidak. TVL Blast sempat melonjak ke miliaran dolar selama fase pra-mainnet berkat program poin, tapi anjlok signifikan setelah token generation event (Juni 2024) begitu insentif poin berkurang — pola khas TVL mercenary yang mengejar airdrop, bukan adopsi organik jangka panjang.