Review Web3 Gaming Terkini: Contoh Kasus dan Realita Pasar
Web3 gaming bergeser dari model play-to-earn spekulatif ke game dengan gameplay lebih matang tapi basis pemain masih jauh dari game tradisional. Review realita terkini.
Web3 gaming terkini bergeser dari model play-to-earn spekulatif ala 2021 ke pendekatan yang lebih menekankan gameplay, tapi basis pemain aktif secara umum masih jauh di bawah game tradisional mainstream.
Review ini membahas kondisi nyata web3 gaming saat ini, contoh kasus konkret, dan kenapa gap ekspektasi vs realita masih besar.
Dari Play-to-Earn ke Play-and-Earn
Fase awal web3 gaming didominasi model play-to-earn (P2E) murni — pemain menghasilkan token dengan bermain, dan nilai token itu sebagian besar bergantung pada modal pemain baru yang terus masuk membeli aset in-game. Axie Infinity adalah contoh paling terkenal: di puncaknya pada 2021, game ini menarik jutaan pemain aktif harian, terutama di Filipina dan Asia Tenggara, dengan token SLP dan AXS sebagai insentif utama.
Model ini terbukti tidak berkelanjutan. Begitu pemain baru berhenti masuk lebih cepat dari kecepatan token dicetak, ekonomi game runtuh — SLP kehilangan mayoritas nilainya dari puncak, dan jumlah pemain aktif Axie Infinity turun drastis dari puncaknya. Pola serupa terjadi di banyak game P2E sejenis pada periode yang sama.
Generasi game web3 setelahnya mencoba pendekatan berbeda: “play-and-earn” — gameplay yang dirancang menarik dengan sendirinya, dengan insentif token sebagai lapisan tambahan, bukan alasan utama bermain. Pendekatan ini lebih sehat secara struktural, tapi juga berarti game harus bersaing kualitas gameplay langsung dengan game tradisional non-crypto — standar yang jauh lebih tinggi.
Contoh Kasus Konkret
Axie Infinity pasca-hack Ronin. Setelah hack jembatan Ronin senilai ratusan juta dolar pada 2022, tim Sky Mavis merombak ekonomi game dan merilis versi baru (Axie Infinity: Origins) dengan model onboarding gratis, menghapus barrier modal awal yang sebelumnya jadi kritik utama. Basis pemain jauh lebih kecil dari puncak, tapi tim tetap aktif mengembangkan produk.
Game dengan pendekatan hybrid. Beberapa studio mencoba merilis game dengan elemen blockchain opsional — aset NFT bisa diperdagangkan tapi tidak wajib untuk bermain. Pendekatan ini menurunkan barrier masuk bagi pemain non-crypto, meski juga mengurangi ketergantungan ekonomi in-game pada token.
Guild gaming yang berevolusi. Model guild seperti Yield Guild Games, yang awalnya berfokus meminjamkan NFT game ke pemain (scholarship) di era P2E, ikut beradaptasi seiring model P2E murni kehilangan daya tarik — bergeser ke peran lebih luas seperti komunitas dan investasi ekosistem game web3.
Tantangan Struktural yang Belum Terpecahkan
Kualitas gameplay masih jadi kelemahan umum. Banyak game web3 dibangun dengan prioritas mekanisme token dan NFT dulu, baru gameplay — kebalikan dari cara studio game tradisional bekerja. Hasilnya, sebagian besar game web3 secara kualitas produksi dan kedalaman gameplay masih kalah jauh dari game AAA atau bahkan game indie mapan.
Onboarding tetap rumit bagi pemain non-crypto. Wallet, gas fee, dan kebutuhan memahami aset on-chain adalah barrier tambahan yang tidak dihadapi pemain game biasa. Sebagian studio mengatasi ini dengan custodial wallet tersembunyi di balik UX biasa, tapi ini juga berarti mengorbankan sebagian nilai desentralisasi yang jadi alasan proyek berbasis blockchain sejak awal.
Ekonomi token tetap rentan. Selama insentif token masih jadi bagian penting dari daya tarik game, risiko spiral kejatuhan nilai token seperti yang terjadi di era P2E awal tetap ada, terutama untuk game baru yang belum punya basis pemain organik.
Risiko bagi Pemain dan Investor
- Token in-game bisa kehilangan nilai drastis kalau jumlah pemain baru menurun atau sentimen market crypto secara umum memburuk
- Aset NFT in-game likuiditasnya rendah — menjual karakter atau item bisa sulit tanpa pembeli aktif
- Banyak proyek game diumumkan tapi tidak pernah rilis penuh — roadmap game web3 secara historis punya tingkat eksekusi yang jauh dari sempurna
- Regulasi soal token yang berfungsi sebagai reward finansial masih berkembang di berbagai negara dan bisa memengaruhi kelangsungan model ekonomi game
Kesimpulan
Web3 gaming terkini menunjukkan pergeseran ke arah yang secara struktural lebih sehat dibanding era P2E murni 2021, tapi masih menghadapi tantangan besar: kualitas gameplay yang perlu bersaing dengan standar industri game mainstream, onboarding yang belum semudah game biasa, dan ekonomi token yang tetap rentan terhadap sentimen pasar. Siapa pun yang tertarik masuk sebagai pemain atau investor sebaiknya menilai gameplay dan tim pengembang terlebih dulu, bukan sekadar potensi token. Baca juga analisis GameFi play-to-earan masih relevan dan pahami dasar gamefi serta web3 gaming economy.
⚠️ Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan saran keuangan atau investasi personal. Token dan aset dalam game web3 adalah aset berisiko tinggi dengan likuiditas yang bisa sangat rendah.
Elite Vault WhaleX: join membership via USDC di Base Network — akses penuh tanpa proses bank tradisional.
Lihat Elite Vault →Pertanyaan Umum
Apakah web3 gaming masih berkembang di 2026?
Masih ada aktivitas, tapi jauh lebih kecil dari hype puncak 2021-2022. Fokus bergeser dari model play-to-earn spekulatif ke game dengan gameplay yang lebih matang, namun basis pemain aktif secara umum masih jauh di bawah game tradisional mainstream.
Apa perbedaan utama web3 gaming sekarang dengan era play-to-earn 2021?
Era 2021 didominasi model play-to-earn murni seperti Axie Infinity awal, di mana ekonomi game bergantung pada modal pemain baru yang terus masuk. Game web3 terkini lebih banyak mencoba model play-and-earn — gameplay dulu, insentif token sebagai tambahan, bukan tujuan utama.