Kamus Crypto

Algorithmic Stablecoin: Cara Kerja dan Kenapa Banyak yang Gagal

Algorithmic stablecoin menjaga peg ke USD melalui kode dan insentif ekonomi — tanpa cadangan fiat. TerraUSD (UST) adalah contoh gagal paling besar.

StablecoinAlgo

Algorithmic stablecoin adalah jenis stablecoin yang mempertahankan harganya di $1 USD bukan melalui cadangan fiat di bank, melainkan melalui algoritma yang secara otomatis mengatur suplai token. Ketika harga naik di atas $1, algoritma mencetak lebih banyak token; ketika harga turun di bawah $1, algoritma mengurangi suplai dengan cara membeli atau membakar token.

Tiga Model Utama Algorithmic Stablecoin

1. Pure Algorithmic (Rebase)

Model paling sederhana: suplai token berubah otomatis di semua dompet secara proporsional. Contohnya Ampleforth (AMPL). Jika AMPL $1.10, semua holder mendapat 10% lebih banyak token — tapi harga per token kembali ke $1 karena suplai naik. Model ini jarang berhasil menjaga peg secara stabil.

2. Seigniorage/Dual-Token

Model yang dipakai TerraUSD (UST) dengan pasangan LUNA. Sistem ini memungkinkan arbitrase: saat UST < $1, pengguna bisa membakar $1 senilai UST untuk mendapat LUNA senilai $1. Ini mengurangi suplai UST sekaligus menambah suplai LUNA.

3. Fractional Algorithmic (Partially Backed)

Model hybrid — sebagian cadangan fiat, sebagian algoritmik. Frax menggunakan model ini: di awal rasio cadangannya 100%, lalu perlahan dikurangi seiring kepercayaan pasar tumbuh.

Collapse Terra-Luna: Pelajaran $40 Miliar

Pada Mei 2022, UST (TerraUSD) — algo stablecoin terbesar dengan market cap $18 miliar — mengalami collapse total dalam 72 jam:

  1. Likuiditas besar keluar dari Anchor Protocol (yang membayar 20% APY untuk UST)
  2. UST mulai depeg dari $1
  3. Mekanisme burn UST → mint LUNA memompa suplai LUNA
  4. Suplai LUNA membengkak dari 350 juta menjadi triliunan token
  5. Harga LUNA dari $80 → $0.0001; UST dari $1 → $0.02

Total kerugian: lebih dari $40 miliar dalam hitungan hari. Ini menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah crypto.

Algorithmic Stablecoin yang Masih Beroperasi

Tidak semua algo stablecoin gagal. Beberapa model yang lebih konservatif masih berjalan:

  • Frax (FRAX): Menggunakan model fractional, kini bergerak menuju 100% collateralized
  • crvUSD: Stablecoin Curve Finance dengan sistem LLAMMA yang unik
  • GHO: Stablecoin Aave, overcollateralized dengan multi-asset

Yang membedakan model-model ini dari UST adalah adanya cadangan nyata (crypto overcollateralized) — bukan murni bergantung pada algoritma dan kepercayaan.

Kenapa Algo Stablecoin Menarik tapi Berbahaya

Algo stablecoin menarik karena tidak butuh rekening bank dan bisa lebih “terdesentralisasi” dari USDC/USDT. Tapi model ini rentan terhadap “death spiral” — kondisi di mana kepercayaan hilang mendadak dan tidak ada cadangan untuk menopang harga.

⚠️ Disclaimer: Hindari menaruh tabungan dalam jumlah besar di algo stablecoin tanpa memahami mekanismenya secara mendalam. Collapse UST membuktikan bahwa “algoritma” tidak bisa menggantikan cadangan nyata saat kepanikan pasar terjadi.

Belajar DeFi Langsung — Bukan Hanya Teori

WhaleX Masterclass 2 Hari: dari setup wallet sampai LP DeFi aktif menghasilkan. Praktik langsung, dipandu mentor berpengalaman.

Lihat Jadwal Kelas →

Pertanyaan Umum

Apa itu algorithmic stablecoin dan bedanya dengan USDT?

Algorithmic stablecoin menjaga harganya di $1 bukan dengan menyimpan dolar di bank, melainkan dengan algoritma yang mengontrol suplai token secara otomatis. USDT didukung dolar asli; algo stablecoin tidak punya cadangan fisik — peg-nya bergantung pada kepercayaan pasar dan mekanisme insentif.

Kenapa TerraUSD (UST) bisa collapse dan kehilangan $40 miliar?

UST menjaga peg-nya dengan sistem mint-burn bersama token LUNA. Saat tekanan jual besar muncul di Mei 2022, mekanisme ini justru menciptakan spiral maut: UST turun → cetak lebih banyak LUNA → harga LUNA hancur → kepercayaan hilang → UST makin turun. Dalam 72 jam, $40 miliar hilang.