Stock-to-Flow (S2F): Model Valuasi Bitcoin Berbasis Kelangkaan
Stock-to-Flow adalah model yang mengukur kelangkaan aset dengan membagi total suplai yang ada dengan produksi tahunan baru — dipakai untuk.
Stock-to-Flow (S2F) adalah model untuk mengukur kelangkaan suatu aset. Rumusnya sederhana: bagi total suplai yang sudah ada (stock) dengan jumlah yang diproduksi setiap tahun (flow). Semakin tinggi rasionya, semakin langka aset itu secara relatif.
Cara Menghitung S2F
Rumus: S2F = Stock / Flow
Contoh — Emas:
- Total emas yang pernah ditambang di dunia: ~190.000 ton
- Produksi tambang baru per tahun: ~3.300 ton
- S2F emas: 190.000 / 3.300 ≈ 57
Artinya, butuh ~57 tahun produksi untuk menggandakan total suplai emas yang ada.
Bitcoin pasca-halving April 2024:
- Total BTC yang sudah ditambang: ~19,7 juta
- Produksi baru per tahun setelah halving: ~164.250 BTC (3,125 BTC/blok × 144 blok/hari × 365)
- S2F Bitcoin: 19.700.000 / 164.250 ≈ 120
Bitcoin sekarang lebih “langka” secara S2F dibandingkan emas.
Mengapa S2F Relevan untuk Bitcoin
Model ini dipopulerkan oleh analis pseudonim “PlanB” di 2019. Argumennya: kelangkaan (diukur lewat S2F) berkorelasi dengan market cap aset. Emas dan perak punya track record ribuan tahun sebagai store of value justru karena S2F tinggi — tidak mudah diencerkan oleh produksi baru.
Bitcoin secara protokol dirancang agar S2F-nya naik setiap halving. Sebelum 2012: S2F ~1. Setelah halving keempat 2024: S2F ~120. Ini bukan kebetulan — Satoshi merancang supply schedule ini dari awal.
Keterbatasan Model S2F
Model ini menarik, tapi bukan tanpa kritik:
1. Tidak memperhitungkan permintaan. S2F hanya mengukur sisi suplai. Jika permintaan Bitcoin turun drastis, S2F tinggi tidak otomatis berarti harga naik.
2. Pernah meleset signifikan. Model S2F memproyeksikan Bitcoin mencapai $100.000+ di akhir 2021. Harga memang sempat menyentuh $69.000 tapi tidak mempertahankannya, dan 2022 terjadi bear market ke ~$16.000.
3. Tidak cocok untuk altcoin. Model ini spesifik untuk aset dengan supply cap dan produksi yang bisa diprediksi seperti Bitcoin. Diterapkan ke token dengan tokenomics berbeda, hasilnya tidak relevan.
Cara Menggunakan S2F sebagai Investor
S2F paling berguna sebagai framework berpikir, bukan sebagai oracle harga:
- Membantu memahami mengapa halving berpotensi bullish secara struktural
- Memberikan konteks bahwa Bitcoin semakin langka seiring waktu
- Bisa digunakan bersama on-chain analysis untuk melihat gambar besar
Jangan gunakan S2F sebagai satu-satunya basis keputusan investasi. Terlalu banyak variabel yang tidak ditangkap model ini.
💡 Baru mulai di crypto? WhaleX punya kelas gratis untuk investor pemula — dari beli pertama sampai memahami risiko dengan benar. Mulai dari kelas gratis →
⚠️ Disclaimer: Model S2F adalah alat analisis, bukan prediksi. Harga Bitcoin dipengaruhi banyak faktor di luar kelangkaan. Invest sesuai kemampuan dan toleransi risiko.
Kelas gratis WhaleX: dasar-dasar trading bot crypto, dari recurring buy sampai spot grid — cocok untuk pemula.
Ikut Kelas Bot Gratis →Pertanyaan Umum
Apa itu Stock-to-Flow (S2F) dalam crypto?
Stock-to-Flow adalah rasio yang membagi total suplai suatu aset yang sudah beredar (stock) dengan jumlah produksi baru per tahun (flow). Semakin tinggi rasionya, semakin langka aset itu. Bitcoin punya S2F ~56 pasca-halving 2024, lebih tinggi dari emas (~60).
Apakah model S2F bisa memprediksi harga Bitcoin dengan akurat?
Model S2F yang dipopulerkan PlanB memperkirakan harga Bitcoin berdasarkan kelangkaan historis. Hasilnya cukup akurat untuk siklus 2012–2021, tapi meleset jauh di 2022. Model ini berguna sebagai kerangka berpikir tentang kelangkaan, bukan sebagai prediksi harga yang presisi.