Kamus Crypto

Memahami Metrik di Token Terminal: P/E Ratio untuk Crypto

Panduan metrik Token Terminal — P/E, P/S ratio, dan revenue — untuk valuasi protokol DeFi layaknya analisis saham tradisional.

AnalisisMetrikValuasiDeFi

Token Terminal memberi angka fundamental untuk protokol DeFi — P/E ratio, P/S ratio, dan revenue breakdown — sehingga investor bisa membandingkan valuasi antar protokol seperti menganalisis saham. Per 2026, platform ini melacak lebih dari 150 protokol dengan data historis 3+ tahun, menjadikannya salah satu tools paling berguna untuk analisis on-chain berbasis fundamental.

Metrik Utama di Token Terminal

Token Terminal mengadaptasi tiga rasio dari analisis saham konvensional ke dunia crypto:

1. Price-to-Earnings (P/E) Ratio

P/E ratio di sini dihitung sebagai: Market Cap / Annualized Earnings. “Earnings” dalam konteks protokol DeFi adalah revenue yang benar-benar masuk ke kas protokol atau didistribusikan ke pemegang token — bukan sekadar volume transaksi.

Contoh konkret: jika suatu protokol lending menghasilkan earnings $50 juta per tahun dan market cap-nya $1 miliar, P/E-nya adalah 20x. Dibanding P/E saham teknologi yang sering di angka 40–80x, 20x bisa terlihat murah — tapi konteks risiko crypto tetap berbeda.

2. Price-to-Sales (P/S) Ratio

P/S dihitung sebagai: Market Cap / Annualized Revenue (Fees). Metrik ini lebih inklusif karena menghitung semua fees yang dibayar pengguna ke protokol, termasuk porsi yang diteruskan ke liquidity pool atau staker.

Protokol dengan P/S di bawah 10x sering dianggap relatif murah dibanding kompetitor, tapi perlu dicek apakah revenue tersebut sustainable atau sedang dalam fase hype.

3. Revenue vs Fees

Ini perbedaan krusial yang sering membingungkan:

  • Fees: Total yang dibayar pengguna (misalnya 0,3% swap fee di DEX)
  • Revenue: Porsi fees yang masuk ke protokol/treasury/token holder

Di banyak DEX, 80–100% fees langsung ke liquidity provider — berarti revenue protokol mendekati nol meski fees-nya besar. Sebaliknya, protokol dengan “fee switch” aktif bisa mengalokasikan 10–20% fees ke treasury.

Cara Pakai Token Terminal untuk Analisis

Langkah 1: Bandingkan P/S antar kompetitor

Buka Token Terminal → pilih kategori (misal: DEX atau Lending) → urutkan berdasarkan P/S ratio. Protokol dengan P/S lebih rendah dari rata-rata kategorinya patut diteliti lebih dalam — apakah memang undervalued atau ada alasan fundamental kenapa murah.

Langkah 2: Cek tren revenue 90 hari

Angka P/E atau P/S snapshot satu hari bisa menyesatkan. Token Terminal menyediakan grafik rolling 90 hari dan 1 tahun. Revenue yang tumbuh konsisten 20–30% quarter-over-quarter jauh lebih menarik daripada angka besar tapi flat atau turun.

Langkah 3: Lihat Active Users

Token Terminal juga melacak daily active users (DAU) dan monthly active users (MAU). Protokol dengan revenue tinggi tapi DAU rendah bisa berarti aktivitas terpusat di beberapa whale saja — risiko konsentrasi yang perlu diwaspadai.

Uniswap pada Q1 2026 memproses volume $40–60 miliar per bulan, namun revenue bersih protokol jauh lebih kecil karena mayoritas fees ke LP — contoh nyata gap antara fees dan revenue.

Ini relevan khususnya saat mengevaluasi protokol yang menawarkan yield farming atau staking — sumber yield tersebut harus bisa ditracing ke revenue nyata, bukan inflasi token.

Keterbatasan Metrik Token Terminal

Data tidak selalu real-time. Beberapa protokol di L2 atau chain minor punya delay update 24–48 jam. Jangan ambil keputusan trading intraday berdasarkan data ini.

P/E crypto tidak bisa dibanding langsung dengan P/E saham. Crypto punya risiko smart contract, regulatory, dan token unlock yang tidak ada di ekuitas. P/E 15x untuk protokol DeFi bisa lebih mahal secara risk-adjusted dibanding P/E 30x untuk saham tech mapan.

Manipulasi volume masih mungkin. Wash trading di DEX bisa menggelembungkan fees dan membuat P/S terlihat rendah. Selalu cros-cek dengan data dari TVL dan unique addresses sebelum menyimpulkan valuasi.

Revenue model bisa berubah. Governance vote bisa mengaktifkan atau mematikan fee switch kapan saja. Protokol yang hari ini memiliki P/E 20x bisa berubah drastis jika governance memutuskan realokasi fees.

Untuk protokol di Ethereum atau layer 2, pertimbangkan juga beban gas fee yang mempengaruhi jumlah aktual yang diterima pengguna versus yang tercatat sebagai fees protokol.

Kesimpulan

Token Terminal mengisi gap yang lama ada di analisis crypto: data fundamental terstruktur yang bisa dipakai untuk membandingkan valuasi protokol secara apples-to-apples. P/E dan P/S ratio bukan holy grail, tapi sebagai titik awal screening — mana protokol yang revenue-nya tumbuh, mana yang overhyped — metrik ini jauh lebih solid daripada sekadar melihat harga token atau volume 24 jam. Gunakan bersama data on-chain lain dan tetap pertimbangkan konteks risiko yang spesifik untuk crypto.

💡 Mau belajar lebih dalam? Kelas WhaleX mengajarkan strategy dan eksekusi nyata, bukan hanya teori. Lihat kelas tersedia →

⚠️ Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan saran keuangan atau investasi personal.

Belajar DeFi Langsung — Bukan Hanya Teori

WhaleX Masterclass 2 Hari: dari setup wallet sampai LP DeFi aktif menghasilkan. Praktik langsung, dipandu mentor berpengalaman.

Lihat Jadwal Kelas →

Pertanyaan Umum

Apa itu P/E ratio dalam konteks crypto di Token Terminal?

P/E ratio crypto adalah market cap protokol dibagi earnings (revenue bersih). Contoh: Uniswap dengan market cap $5 miliar dan earnings $200 juta per tahun punya P/E sekitar 25x.

Bagaimana cara membaca P/S ratio di Token Terminal?

P/S ratio = market cap dibagi total fees/revenue yang dihasilkan protokol. Semakin rendah angkanya dibanding kompetitor, semakin murah valuasi protokol tersebut secara relatif.

Apa perbedaan fees dan revenue di Token Terminal?

Fees adalah total yang dibayar pengguna ke protokol. Revenue adalah bagian yang masuk ke treasury atau token holder — bisa jauh lebih kecil dari fees karena sebagian besar dialokasikan ke liquidity provider.