Perbandingan Perp DEX: Vertex vs Aevo vs Vela vs GMX
Perbandingan Vertex, Aevo, Vela, dan GMX — empat perpetual DEX alternatif di luar Hyperliquid. Model teknis, leverage, dan risiko likuidasi.
Vertex, Aevo, Vela, dan GMX adalah empat perpetual DEX yang beroperasi dengan model teknis berbeda-beda — alternatif bagi trader yang ingin diversifikasi eksposur, tidak mau semua volume tergantung pada satu platform dominan seperti Hyperliquid.
Sejak Hyperliquid mendominasi market share volume perp DEX, banyak trader menganggap platform lain sudah tidak relevan. Padahal masing-masing punya niche dan trade-off teknis yang layak dipahami sebelum menyimpulkan satu platform “terbaik”.
Model Teknis: Order Book vs Pool
Sebelum membandingkan platform satu per satu, penting memahami dua model dasar perp DEX:
Order Book (CLOB) — trader match langsung dengan trader lain lewat limit order dan market order, mirip CEX. Vertex dan Aevo memakai pendekatan ini.
Liquidity Pool — trader berhadapan dengan pool likuiditas sebagai counterparty. LP menyediakan modal dan mendapat fee, tapi menanggung risiko kalau trader banyak yang profit. GMX dan Vela memakai model ini.
Profil Empat Platform
Vertex Protocol berjalan di atas Arbitrum dengan model hybrid — order book on-chain dikombinasikan dengan AMM sebagai backstop likuiditas saat order book tipis. Vertex menekankan cross-margin, di mana kolateral bisa dipakai lintas produk (spot, perp, money market) dalam satu akun.
Aevo (sebelumnya dikenal sebagai Ribbon Finance) membangun rollup sendiri berbasis OP Stack, fokus pada perpetual dan produk turunan seperti options. Order matching terjadi off-chain untuk kecepatan, sementara settlement tetap on-chain — model yang mirip pendekatan dYdX v3 lama.
Vela Exchange berjalan di Arbitrum dengan model multi-asset pool mirip filosofi awal GMX v1 — LP deposit ke pool bersama (VLP) yang jadi counterparty seluruh trader di platform.
GMX sudah dibahas mendalam di review GMX — tetap jadi salah satu perp DEX pool-based paling matang dengan track record operasional terpanjang di segmen ini.
Tabel Perbandingan
| Aspek | Vertex | Aevo | Vela | GMX |
|---|---|---|---|---|
| Model | Order book + AMM hybrid | Order book (off-chain matching) | Liquidity pool | Liquidity pool |
| Chain | Arbitrum | Rollup sendiri (OP Stack) | Arbitrum | Arbitrum/Avalanche/Base |
| Fitur khas | Cross-margin lintas produk | Perp + options | Multi-asset pool (VLP) | GM pool terisolasi per aset |
| Leverage maks | Puluhan kali, bervariasi per pair | Puluhan kali, bervariasi per pair | Puluhan kali, bervariasi per pair | Hingga 50x |
| KYC | Tidak | Tidak | Tidak | Tidak |
Catatan: angka leverage maksimum dan detail fee berubah mengikuti kebijakan masing-masing protokol — cek dokumentasi resmi untuk angka terkini sebelum trading.
Kapan Masing-Masing Platform Masuk Akal
Vertex cocok untuk trader yang mau efisiensi modal lewat cross-margin — kolateral yang sama dipakai untuk spot dan perp sekaligus tanpa perlu transfer manual antar produk.
Aevo cocok untuk trader yang juga tertarik pada produk options di luar perpetual, dan nyaman dengan model settlement rollup khusus.
Vela cocok untuk trader yang familiar dengan model pool ala GMX tapi ingin coba ekosistem yang lebih baru dengan insentif token yang mungkin lebih agresif.
GMX cocok untuk yang memprioritaskan trust dan track record operasional jangka panjang dibanding fitur paling mutakhir — lihat detail lengkap di review GMX.
Untuk pembanding utama di luar keempatnya, baca review Hyperliquid yang memegang mayoritas volume perp DEX saat ini.
Risiko Utama
Risiko likuidasi. Ini risiko dasar semua perp trading — leverage yang lebih tinggi berarti pergerakan harga kecil bisa menghapus seluruh posisi. Risiko ini sama di keempat platform, terlepas dari model teknisnya.
Risiko counterparty pada model pool. Di Vela dan GMX, LP adalah counterparty langsung trader. Kalau trader secara agregat banyak profit dalam periode tertentu, LP menanggung kerugian yang setara — ini bukan risiko “pasif” seperti staking biasa.
Risiko oracle manipulation. Semua perp DEX bergantung pada oracle harga untuk menentukan likuidasi dan settlement. Manipulasi harga di aset dengan likuiditas tipis bisa memicu likuidasi paksa yang tidak wajar — pola yang sudah pernah terjadi di beberapa platform perp DEX pool-based.
Risiko smart contract dan kematangan protokol. Vertex, Aevo, dan Vela relatif lebih baru dibanding GMX. Meski masing-masing sudah diaudit, umur operasional yang lebih pendek berarti belum teruji lewat siklus krisis pasar sepanjang yang dialami GMX.
Risiko likuiditas tipis di luar pair utama. Volume di keempat platform ini jauh di bawah Hyperliquid untuk pair non-BTC/ETH — slippage bisa signifikan untuk posisi besar di pair yang kurang likuid.
Kesimpulan
Tidak ada satu “perp DEX terbaik” yang berlaku universal — Vertex unggul di efisiensi modal cross-margin, Aevo di kombinasi perp-options, Vela di model pool yang familiar dengan insentif baru, dan GMX di trust serta rekam jejak operasional. Keempatnya juga tetap kalah volume signifikan dibanding Hyperliquid.
Pilihan platform sebaiknya disesuaikan dengan gaya trading dan toleransi risiko, bukan sekadar mengikuti platform dengan volume terbesar. Untuk trader yang belum berpengalaman dengan leverage, mulai dengan posisi kecil di satu platform dan pahami mekanisme likuidasinya secara penuh sebelum menambah eksposur.
⚠️ Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan saran keuangan atau investasi personal. Trading perpetual dengan leverage mengandung risiko tinggi dan bisa menyebabkan kehilangan seluruh modal. Data platform bisa berubah — verifikasi lewat dokumentasi resmi sebelum menggunakan produk apa pun.
Elite Vault WhaleX: join membership via USDC di Base Network — akses penuh tanpa proses bank tradisional.
Lihat Elite Vault →Pertanyaan Umum
Apa alternatif perp DEX selain Hyperliquid?
Vertex, Aevo, Vela, dan GMX adalah empat perpetual DEX aktif dengan model teknis berbeda — Vertex dan Aevo pakai order book on-chain dengan chain sendiri, Vela dan GMX pakai model liquidity pool tempat LP jadi counterparty trader.
Apa risiko utama trading di perp DEX selain risiko likuidasi biasa?
Selain risiko likuidasi karena leverage, perp DEX punya risiko oracle manipulation, risiko counterparty pada model pool (LP bisa rugi kalau trader banyak profit), dan risiko smart contract pada protokol yang relatif baru dan belum teruji krisis skala besar.