USDT (Tether): Stablecoin Terbesar di Dunia dan Kontroversinya
USDT adalah stablecoin $1 dengan market cap terbesar di crypto — ini backing-nya, perbedaannya dari USDC, dan kenapa ada yang mempertanyakan.
USDT adalah stablecoin yang dipatok ke $1 USD, diterbitkan oleh Tether Limited. Dengan market cap melampaui $110 miliar per mid-2025, USDT adalah stablecoin terbesar dan aset crypto ketiga terbesar setelah Bitcoin dan Ethereum. Di Indonesia, USDT adalah stablecoin yang paling sering digunakan untuk trading di exchange dan transfer antar-pemain crypto.
Backing USDT: Apa yang Menjaminnya
Tether mengklaim setiap USDT dijamin oleh reserve yang setara atau melebihi 1 dolar. Komposisi reserve per laporan terbaru Tether (diupdate kuartalan):
- Mayoritas: US Treasury Bills dan repo agreement yang dijamin T-bills
- Lainnya: cash, aset lain termasuk Bitcoin (sekitar 5% dari total reserve)
- Sebelumnya (kontroversial): sempat termasuk commercial paper korporasi Cina yang likuiditasnya dipertanyakan
Berbeda dari USDC yang menerbitkan attestation bulanan dari firma akuntan big-four, laporan Tether diterbitkan kuartalan dan diaudit oleh firma yang lebih kecil. Ini salah satu sumber kritik terhadap transparansi Tether.
Sejarah Kontroversi Tether
Beberapa momen penting dalam sejarah Tether yang perlu diketahui investor:
2019: New York Attorney General menyelidiki Tether dan Bitfinex terkait penggunaan dana USDT untuk menutupi kerugian Bitfinex sebesar $850 juta. Diselesaikan dengan denda $18,5 juta tanpa mengakui kesalahan.
2021: CFTC mendenda Tether $41 juta karena pernyataan bahwa USDT “fully backed by dollars” dinilai menyesatkan — pada 2016-2018 reserve-nya tidak selalu cash penuh.
2022: Saat Terra-Luna collapse, USDT sempat depeg ke $0,95 selama beberapa jam sebelum pulih. Ini menunjukkan risiko kontagian panik meski fundamental USDT berbeda dari UST.
Meski demikian, USDT tidak pernah kolaps, dan Tether terus memperbaiki transparansi reserve-nya.
USDT TRC-20 vs ERC-20
Di Indonesia, dua varian USDT yang paling umum:
USDT TRC-20 (jaringan Tron): fee transfer sangat murah, di bawah $1 bahkan untuk transfer besar. Ini yang paling umum digunakan untuk transfer OTC dan antara exchange. Tapi jaringan Tron lebih terpusat — Justin Sun, pendiri Tron, memiliki pengaruh besar atas jaringan.
USDT ERC-20 (jaringan Ethereum): lebih umum di DeFi dan diterima di lebih banyak protokol. Fee lebih tinggi (gas Ethereum), tapi jaringannya lebih terdesentralisasi.
Pastikan jaringan yang digunakan sama saat transfer — kirim USDT TRC-20 ke alamat yang hanya mendukung ERC-20 bisa mengakibatkan kehilangan dana permanen.
USDT vs USDC: Pilih yang Mana?
Untuk trading di CEX (Indodax, OKX, Binance): USDT lebih liquid dan pasangan trading lebih banyak.
Untuk DeFi on-chain: USDC lebih dominan dan lebih dalam integrasinya di protokol seperti Aave, Compound, dan Uniswap.
Untuk transfer murah lintas exchange: USDT TRC-20.
⚠️ Disclaimer: Meski dipatok $1, USDT punya risiko counterparty dari Tether Limited. Diversifikasi stablecoin dan jangan simpan semua dana dalam satu jenis stablecoin.
WhaleX Masterclass 2 Hari: dari setup wallet sampai LP DeFi aktif menghasilkan. Praktik langsung, dipandu mentor berpengalaman.
Lihat Jadwal Kelas →Pertanyaan Umum
Apakah USDT aman digunakan?
USDT sudah digunakan bertahun-tahun dan belum pernah gagal menjaga peg $1 dalam kondisi normal. Tapi Tether pernah didenda $41 juta oleh CFTC (2021) karena menyatakan reserve-nya 100% cash padahal kenyataannya campuran. Sejak itu transparansi membaik, tapi USDT tetap dianggap lebih opak dibanding USDC.
Apa perbedaan USDT di berbagai blockchain?
USDT tersedia di banyak blockchain: Ethereum (ERC-20), Tron (TRC-20), BNB Chain (BEP-20), Solana, dan lainnya. USDT TRC-20 populer di Indonesia dan Asia Tenggara karena fee transfer sangat murah (kurang dari $1), tapi jaringan Tron lebih terpusat dibanding Ethereum.