Analisis

Analisis Kenapa Royalti Kreator NFT Hilang di Marketplace Modern

Royalti kreator NFT hilang karena marketplace zero-royalty seperti Blur dan X2Y2 memicu race-to-bottom sejak 2022-2023. Analisis mekanisme dan dampaknya bagi kreator.

NFTRoyaltiMarketplace

Royalti kreator NFT hilang karena sifatnya opsional secara teknis, bukan aturan yang dipaksakan on-chain — dan marketplace zero-royalty seperti Blur dan X2Y2 mempercepat race-to-bottom ini sejak 2022-2023 dengan menjadikan royalti sebagai fitur pilihan, bukan kewajiban.

Artikel ini membahas mekanisme kenapa royalti bisa hilang, siapa yang paling dirugikan, dan apa yang tersisa dari sistem royalti NFT saat ini.

Bagaimana Royalti NFT Sebenarnya Bekerja

Standar NFT paling umum, ERC-721 dan ERC-1155, tidak punya mekanisme bawaan yang memaksa pembayaran royalti di level protokol blockchain. Royalti yang selama ini dikenal — biasanya 5-10% dari harga jual ke kreator setiap kali NFT diperjualbelikan kembali — sebenarnya adalah konvensi yang ditegakkan oleh marketplace, bukan oleh smart contract NFT itu sendiri.

Standar tambahan seperti EIP-2981 memang memungkinkan kreator mendaftarkan persentase royalti di level kontrak, tapi standar ini hanya bersifat informatif. Marketplace tetap bisa memilih untuk mengabaikannya saat memproses transaksi jual-beli. Artinya, royalti NFT selama ini berjalan karena marketplace besar seperti OpenSea secara sukarela menegakkannya — bukan karena ada paksaan teknis yang tidak bisa dilewati.

Titik Balik: Perang Marketplace Zero-Royalty

Sejak akhir 2022, marketplace seperti Blur mulai bersaing merebut volume trading dari OpenSea dengan strategi agresif: menjadikan royalti opsional bagi pembeli, memberi insentif token untuk trader aktif, dan menawarkan biaya transaksi lebih rendah. X2Y2 juga mengambil pendekatan serupa lebih awal.

Strategi ini efektif menarik trader — terutama trader volume tinggi yang lebih peduli pada biaya transaksi ketimbang mendukung kreator. Begitu volume berpindah ke platform zero-royalty, marketplace lain menghadapi tekanan kompetitif: tetap menegakkan royalti penuh berisiko kehilangan pangsa pasar ke platform yang lebih murah.

Hasilnya adalah race-to-bottom klasik: satu demi satu marketplace melonggarkan penegakan royalti, karena tidak ada yang mau jadi satu-satunya platform “mahal” bagi trader. Bahkan OpenSea, yang awalnya salah satu penegak royalti paling konsisten, akhirnya membuat royalti opsional pada sebagian besar koleksi menyusul tekanan kompetitif ini.

Siapa yang Paling Dirugikan

Kreator dan seniman independen adalah pihak yang paling terdampak. Bagi banyak seniman, royalti dari penjualan sekunder adalah sumber pendapatan berkelanjutan yang lebih besar dari penjualan mint awal — terutama untuk koleksi yang naik nilai signifikan setelah launching. Hilangnya royalti berarti kreator hanya mendapat bagian dari penjualan pertama, sama seperti menjual karya fisik satu kali tanpa residual income.

Proyek dengan model bisnis bergantung royalti juga terdampak — sejumlah proyek game atau utility NFT merancang treasury pengembangan berdasarkan proyeksi pendapatan royalti berkelanjutan, yang jadi tidak bisa diandalkan lagi.

Kolektor jangka panjang secara tidak langsung juga terdampak, karena insentif kreator untuk terus mengembangkan roadmap dan utility proyek berkurang ketika pemasukan royalti tidak lagi bisa diandalkan.

Upaya Mengembalikan Penegakan Royalti

Beberapa pendekatan teknis muncul untuk mencoba memaksa pembayaran royalti, seperti operator filter list yang memblokir NFT diperdagangkan di marketplace non-royalti, atau smart contract khusus yang membatasi transfer ke alamat yang tidak menegakkan royalti. Namun pendekatan ini punya keterbatasan nyata: bisa dilewati dengan teknik seperti membungkus (wrapping) NFT ke kontrak lain, atau transaksi over-the-counter di luar marketplace sama sekali.

Sampai saat ini, tidak ada solusi tunggal yang membuat royalti benar-benar wajib secara teknis tanpa celah. Sebagian kreator merespons dengan strategi alternatif: menaikkan harga mint awal, menjual utility tambahan berbayar, atau membangun model pendapatan di luar royalti sekunder sama sekali.

Kesimpulan

Royalti NFT hilang bukan karena satu marketplace jahat, tapi karena struktur insentif kompetitif yang memaksa seluruh industri menurunkan standar bersama — pola race-to-bottom yang dipicu marketplace zero-royalty sejak 2022-2023. Bagi kreator, ini berarti model bisnis berdasarkan royalti sekunder yang dulu dianggap pasti kini jadi sumber pendapatan yang tidak bisa lagi diandalkan sepenuhnya. Untuk konteks kondisi pasar NFT secara umum saat ini, baca analisis pasar NFT 2026, serta pahami dasar royalti NFT dan nft royalty enforcement sebagai referensi teknis.

⚠️ Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan saran keuangan atau investasi personal. Kondisi pasar dan kebijakan marketplace bisa berubah sewaktu-waktu.

Mau Masuk Web3 Tanpa Rekening Bank?

Elite Vault WhaleX: join membership via USDC di Base Network — akses penuh tanpa proses bank tradisional.

Lihat Elite Vault →

Pertanyaan Umum

Kenapa royalti NFT kreator sekarang sering tidak dibayar?

Karena royalti NFT sifatnya opsional secara teknis, bukan dipaksakan on-chain. Sejak marketplace seperti Blur dan X2Y2 membuat royalti opsional atau nol persen demi menarik trader dengan biaya lebih murah sejak 2022-2023, marketplace lain ikut menurunkan penegakan royalti agar tidak kalah bersaing volume.

Apakah ada cara memaksa pembeli membayar royalti NFT?

Ada beberapa pendekatan teknis seperti operator filter list dan enforcement di level smart contract, tapi tidak ada yang sepenuhnya kebal dari cara bypass seperti wrapping NFT atau transaksi over-the-counter. Sampai saat ini tidak ada solusi tunggal yang membuat royalti terjamin 100% di seluruh marketplace.