SBR (Savings Bond Ritel): Obligasi Negara yang Tidak Bisa Dijual Sebelum Jatuh Tempo
SBR adalah obligasi pemerintah RI untuk individu dengan imbal hasil mengambang — tidak bisa diperdagangkan tapi imbal hasilnya bisa naik saat suku.
SBR (Savings Bond Ritel) adalah Surat Berharga Negara konvensional yang diterbitkan pemerintah Indonesia khusus untuk investor individu. Yang membedakan SBR dari ORI adalah dua hal: imbal hasilnya mengambang (floating) dan tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder.
Cara Kerja Imbal Hasil SBR
Kupon SBR dihitung dari BI Rate + spread. Misalnya SBR013 (2024) menawarkan BI Rate + 0,75% dengan floor (batas bawah) 6,50% per tahun. Artinya:
- Jika BI Rate = 6,25% → kupon SBR = 7,00% per tahun
- Jika BI Rate naik ke 7,00% → kupon SBR = 7,75% per tahun
- Jika BI Rate turun ke 5,00% → kupon tetap di 6,50% (floor aktif)
Kupon direview setiap 3 bulan mengikuti perubahan BI Rate. Ini keunggulan SBR di lingkungan suku bunga tinggi — berbeda dengan deposito yang kuponnya dikunci saat pembukaan.
Perbedaan SBR vs ORI
| Fitur | SBR | ORI |
|---|---|---|
| Imbal hasil | Mengambang (BI Rate + spread) | Tetap |
| Bisa diperdagangkan | Tidak | Ya |
| Early redemption | Ya (setelah 12 bulan, maks 50%) | Tidak (harus jual di pasar sekunder) |
| Cocok untuk | Hold to maturity, suka floating | Suka kepastian, butuh likuiditas |
Fasilitas Early Redemption
Karena SBR tidak bisa diperdagangkan, pemerintah menyediakan fasilitas early redemption — pencairan awal sebelum jatuh tempo. Ketentuannya:
- Tersedia setelah 12 bulan pertama kepemilikan
- Maksimum 50% dari total kepemilikan
- Pencairan penuh dilakukan saat jatuh tempo
Ini berbeda dari deposito bank yang bisa dicairkan kapan saja (dengan penalti). SBR kurang fleksibel tapi lebih aman dari sisi risiko penerbit.
Minimum Investasi dan Pajak
Minimum pembelian SBR adalah Rp 1 juta, maksimum Rp 5 miliar per seri. Kupon dikenai pajak 10% final — lebih rendah dari deposito (20%).
Dengan tenor biasanya 2 tahun dan kupon yang mengikuti BI Rate, SBR cocok untuk dana darurat yang tidak dibutuhkan dalam 2 tahun tapi ingin dapat imbal hasil di atas deposito.
Cara Membeli SBR
SBR dijual selama masa penawaran (biasanya 1–2 kali per tahun) melalui platform Kemenkeu dan mitra distribusi seperti Bibit, Bareksa, BRI, BCA, dan bank-bank besar. Setelah masa penawaran tutup, tidak ada lagi SBR seri tersebut yang bisa dibeli di pasar.
Terhubung dengan: SBN | ORI | Obligasi
⚠️ Disclaimer: SBR tidak bisa dijual sebelum jatuh tempo kecuali early redemption dengan batasan 50%. Pertimbangkan kebutuhan likuiditas Anda sebelum berinvestasi.
Kelas gratis WhaleX: memahami era aset digital multipolar dan cara memantau portofolio dengan sistem yang benar.
Ikut Kelas ETF Gratis →Pertanyaan Umum
Apa itu SBR dan bagaimana cara kerjanya?
SBR (Savings Bond Ritel) adalah obligasi pemerintah Indonesia yang dijual khusus ke individu dengan imbal hasil mengambang — dihitung dari BI Rate ditambah spread tertentu. Tidak bisa dijual sebelum jatuh tempo, hanya bisa early redemption setelah 12 bulan pertama (maksimum 50%).
Kenapa SBR cocok saat suku bunga naik?
Imbal hasil SBR mengikuti BI Rate — jika BI Rate naik, kupon SBR ikut naik. Ini berbeda dari ORI yang kuponnya tetap. Jadi saat suku bunga tinggi, SBR bisa memberikan imbal hasil lebih baik dari deposito bank.