Yield Obligasi: Cara Menghitung dan Kenapa Naik saat Harga Turun
Yield obligasi adalah imbal hasil efektif berdasarkan harga beli aktual — bukan angka kupon. Hubungan terbalik yield-harga dan cara menghitungnya.
Yield obligasi adalah imbal hasil efektif yang Anda dapatkan dari obligasi berdasarkan harga beli aktual — bukan sekadar angka kupon yang tertera. Yield adalah angka yang benar-benar menggambarkan apa yang Anda dapatkan dari investasi obligasi.
Bedanya Yield dengan Kupon
Kupon adalah bunga tetap yang tertera dalam kontrak obligasi — tidak berubah selama masa obligasi. Yield adalah perhitungan dinamis yang bergantung pada harga obligasi di pasar.
Contoh angka:
| Skenario | Nilai Nominal | Kupon | Harga Beli | Yield Efektif |
|---|---|---|---|---|
| Beli di nominal | Rp 1.000.000 | 7% | Rp 1.000.000 | 7,0% |
| Beli diskon | Rp 1.000.000 | 7% | Rp 950.000 | 7,37% |
| Beli premium | Rp 1.000.000 | 7% | Rp 1.050.000 | 6,67% |
Obligasi korporasi yang dianggap lebih berisiko sering diperdagangkan di bawah nominal — sehingga yield-nya lebih tinggi dari kupon sebagai kompensasi risiko.
Hubungan Terbalik Harga-Yield
Ini adalah konsep paling kontra-intuitif di dunia obligasi:
Harga naik → Yield turun Harga turun → Yield naik
Alasannya: kupon dalam rupiah jumlahnya tetap. Jika harga obligasi naik dari Rp 1 juta ke Rp 1,1 juta sementara kupon tetap Rp 70.000/tahun, persentase yield Anda jadi 70.000 / 1.100.000 = 6,36% — lebih rendah.
Ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, obligasi lama dengan kupon rendah jadi kurang menarik. Investor menjualnya, harga turun, yield naik sampai kompetitif dengan bunga pasar baru.
Jenis-jenis Yield
Current Yield: Kupon tahunan / harga pasar saat ini. Paling mudah dihitung tapi paling kasar.
Yield to Maturity (YTM): Imbal hasil total jika obligasi dipegang hingga jatuh tempo, termasuk selisih harga beli vs nilai nominal. Ini angka terpenting untuk perbandingan antar obligasi.
Yield to Call (YTC): Untuk obligasi yang bisa dilunasi lebih awal (callable bond). YTC dihitung sampai tanggal pelunasan awal, bukan jatuh tempo.
Yield Spread: Mengukur Risiko Relatif
Yield spread adalah selisih yield antara dua obligasi, biasanya dibandingkan dengan SBN (obligasi pemerintah) sebagai acuan bebas risiko.
Obligasi korporasi dengan rating A mungkin yield-nya 8,5%, sementara SBN 10 tahun yield-nya 6,8%. Spread = 1,7% — ini kompensasi investor untuk risiko gagal bayar korporat vs jaminan pemerintah.
Yield Obligasi dan Return Total
Return total obligasi = kupon yang diterima + capital gain/loss. Jika Anda beli obligasi dan yield pasar turun (karena bunga turun), harga obligasi Anda naik — ada capital gain jika dijual sebelum jatuh tempo. Strategi trading obligasi memanfaatkan pergerakan yield ini, bukan sekadar menunggu kupon.
⚠️ Disclaimer: Obligasi korporasi berisiko gagal bayar. Obligasi yang diperdagangkan di pasar sekunder bisa dijual di harga lebih rendah dari harga beli jika yield pasar naik. Pastikan Anda memahami risiko sebelum berinvestasi.
Kelas gratis WhaleX: memahami era aset digital multipolar dan cara memantau portofolio dengan sistem yang benar.
Ikut Kelas ETF Gratis →Pertanyaan Umum
Kenapa harga obligasi turun saat yield naik?
Karena hubungan keduanya terbalik secara matematis. Bayangkan obligasi dengan kupon tetap Rp 80.000/tahun. Jika bunga pasar naik dan investor sekarang bisa dapat 10% di tempat lain, tidak ada yang mau beli obligasi ini di harga nominal. Harga obligasi harus turun sampai yield efektifnya setara ~10%. Sebaliknya, saat bunga pasar turun, obligasi lama dengan kupon tinggi jadi mahal — harganya naik, yield efektifnya turun.
Apa itu yield to maturity (YTM)?
YTM adalah yield obligasi jika Anda membelinya sekarang dan menahan hingga jatuh tempo, termasuk semua pembayaran kupon dan nilai nominal yang diterima di akhir. Ini angka yang paling komprehensif untuk membandingkan obligasi dengan masa jatuh tempo berbeda. YTM sudah tersedia di platform investasi — Anda tidak perlu menghitung manual.